Sorowako, – Setiap daerah memiliki cerita, dan di Luwu Timur, salah satu cerita itu tumbuh dari alam Buah Dengeng, buah endemik yang menjadi bagian dari kekayaan hayati daerah.
Dengeng bukan hanya tentang buah. Ia adalah tentang potensi lokal, tentang alam yang memberi manfaat, dan tentang bagaimana kekayaan daerah dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai.
Semangat itulah yang kemudian dituangkan oleh designer lokal Fatmawati Patintingan, dalam sebuah karya UMKM: Batik Dengeng. Mengambil inspirasi dari bentuk dan karakter buah Dengeng, motif ini menghadirkan kekayaan alam Luwu Timur ke dalam selembar kain.
Jika buah Dengeng memberikan manfaat melalui kandungan vitamin C-nya yang tinggi, maka Batik Dengeng memberikan manfaat melalui kreativitas dan nilai ekonomi. Keduanya memiliki satu filosofi yang sama tumbuh dari daerah, memberi manfaat bagi masyarakat.
Batik Dengeng menjadi bukti bahwa potensi lokal tidak harus berhenti sebagai kekayaan alam.
Dengan kreativitas, inovasi, dan sentuhan tangan pelaku UMKM, potensi tersebut dapat bertransformasi menjadi produk bernilai, memiliki identitas, dan dikenal lebih luas.
Menariknya, buah Dengeng juga diangkat sebagai maskot Expo K-UMKM Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Kehadirannya menjadi representasi kekayaan hayati sekaligus identitas potensi lokal Luwu Timur.
Selain itu, kekayaan sebuah daerah tidak hanya tersimpan dalam alam dan kreativitas masyarakatnya. Ada pula jejak sejarah dan warisan leluhur yang perlu dijaga agar tetap dikenal oleh generasi penerus.
Hal ini terlihat di stan Pompesi Luwu, yang menampilkan beragam benda pusaka bersejarah, mulai dari keris, badik, parang, tombak, hingga waseh atau kapak.
Koleksi-koleksi tersebut menarik perhatian pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat sejarah, bahan, serta kisah di balik benda-benda pusaka yang diwariskan dari masa ke masa.
Ketua Pompesi Luwu, Astriadi, menjelaskan bahwa sebagian besar koleksi yang dipamerkan merupakan milik anggota dan rekan-rekan Pompesi.
Menurutnya, material besi dari Luwu dikenal memiliki kualitas yang baik dan telah digunakan untuk membuat berbagai benda pusaka sejak dahulu.
Sebagian koleksi memiliki kisah tersendiri. Ada yang ditemukan di gua dan dasar perairan, ada pula yang dirawat serta diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga.
Tak hanya menjadi ruang pamer, stan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Sejumlah pelajar turut berkunjung untuk melihat koleksi sekaligus menggali pengetahuan tentang sejarah pusaka.
“Kami dari keluarga besar Pompesi sebenarnya ingin melestarikan adat dan budaya. Kita dikenal karena adat dan budaya, serta dihormati karena adat dan budaya kita. Jadi, adat dan budaya harus tetap dilestarikan,” ungkapnya.
Kehadiran Batik Dengeng dan koleksi pusaka Pompesi Luwu menghadirkan dua sisi kekayaan daerah, potensi alam yang diolah menjadi karya kreatif, serta warisan sejarah yang terus dijaga keberadaannya.
Keduanya menunjukkan bahwa identitas daerah dapat hidup melalui berbagai cara, baik lewat inovasi pelaku UMKM maupun melalui upaya merawat dan memperkenalkan peninggalan leluhur.
Melalui Expo K-UMKM Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, kekayaan lokal tidak hanya dipamerkan, tetapi juga diperkenalkan sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan daerah. (el-sp)





