Bupati Luwu Timur Pimpin Doa Bersama untuk Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung

oleh -22 pembaca
oleh

Luwu Timur, – Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, memimpin langsung doa bersama untuk para korban jatuhnya pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) berjenis ATR 42-500, di Lapangan Iniaku, Desa Soroako, Kecamatan Nuha, Senin (19/1/2026) sore sekitar pukul 17.05 Wita.

Doa bersama tersebut dilaksanakan di sela kegiatan Prosenijar PGRI, yang dihadiri para guru serta masyarakat Luwu Timur. Dalam kesempatan itu, Irwan mengajak seluruh peserta yang beragama Islam untuk membacakan Surah Al-Fatihah, sementara peserta nonmuslim dipersilakan menyesuaikan doa sesuai keyakinan masing-masing.

Menurut Irwan Bachri Syam yang akrab disapa Ibas, doa bersama ini merupakan bentuk solidaritas dan harapan agar seluruh korban pesawat yang hingga kini masih dalam proses pencarian dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.

“Saya mengajak kepada kita semua agar membacakan Surah Al-Fatihah untuk para korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 agar segera ditemukan dalam keadaan selamat,” ujar Irwan.

Memasuki hari ketiga pascakejadian, tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) masih terus melakukan upaya pencarian dan evakuasi di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Senin (19/1/2026).

Diketahui, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport tersebut hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) pukul 13.17 Wita, saat melintas di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep. Pesawat itu tengah melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Pesawat naas tersebut membawa 10 orang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang yang merupakan pekerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa proses evakuasi dilakukan melalui jalur udara dan darat, dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca ekstrem di kawasan Gunung Bulusaraung.

“Opsi evakuasi selanjutnya adalah melalui jalur udara. Helikopter Caracal akan mencoba mendarat di puncak untuk melakukan evakuasi dengan metode hoist,” ujar Syafii di Kantor Basarnas Makassar, Minggu (18/1/2026).

Namun demikian, lanjut Syafii, apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan evakuasi udara, maka tim SAR gabungan akan melakukan evakuasi melalui jalur darat.