Telusur-news.com, Makassar – Universitas Hasanuddin memasuki babak baru transformasi kelembagaan melalui pelantikan 21 pejabat baru yang menandai penguatan tata kelola universitas pada periode kepemimpinan terbaru, pada Selasa (7/7), di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar.
Restrukturisasi ini merupakan bagian dari strategi untuk menyiapkan Unhas menghadapi disrupsi teknologi, mempercepat hilirisasi inovasi, serta memperluas jejaring riset dan kolaborasi global. Salah satu perubahan paling menonjol adalah bertambahnya jumlah jajaran wakil rektor dari empat menjadi lima. Struktur baru tersebut mencerminkan perluasan mandat universitas dalam merespons tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks.
Selain itu, Unhas membentuk sejumlah unit strategis baru, di antaranya Lembaga Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial serta Executive Global Research Institute. Kedua lembaga ini diharapkan menjadi motor penggerak transformasi akademik, penguatan riset, dan internasionalisasi universitas.
Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc menegaskan kehadiran lembaga yang berfokus pada transformasi digital dan kecerdasan artifisial merupakan langkah strategis menghadapi perubahan zaman. AI merupakan dimensi baru yang meliputi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, industri, hingga pelayanan publik.
“Teknologi ini akan membentuk cara kita belajar, bekerja, melakukan riset, hingga melayani masyarakat. Karena itu, Unhas harus menjadi pemain sekaligus pencipta tren, bukan sekadar mengikuti perkembangan,” ungkap Rektor Prof. JJ.
Melalui transformasi tersebut, Unhas menargetkan integrasi kecerdasan artifisial dalam ekosistem pendidikan, penelitian, tata kelola, serta layanan kampus. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi dalam membangun universitas yang lebih modern, adaptif, dan berbasis teknologi.
Prof. JJ juga menekankan bahwa penguatan kelembagaan harus diikuti dengan peningkatan dampak nyata hasil riset dan inovasi. Produk-produk yang dihasilkan sivitas akademika, menurutnya, tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah atau laboratorium, tetapi harus mampu ditransformasikan menjadi solusi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Hasil riset harus sampai ke hilir. Inovasi yang kita lahirkan harus berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menjawab persoalan nyata yang dihadapi bangsa,” tegasnya.
Untuk mendukung agenda tersebut, Unhas juga memperkuat fungsi Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian serta Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Pengelolaan Usaha. Kedua bidang ini diharapkan mempercepat kolaborasi dengan pemerintah, industri, dunia usaha, alumni, serta mitra internasional guna memperluas pemanfaatan hasil riset dan inovasi universitas.
Transformasi kelembagaan ini menjadi bagian dari visi besar Universitas Hasanuddin dalam membangun perguruan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melalui tata kelola yang lebih dinamis, penguatan riset global, pemanfaatan kecerdasan artifisial, dan hilirisasi inovasi, Unhas menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi kampus yang menghadirkan solusi, membangun kemandirian, melahirkan inovasi, serta berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.





