Luwu Timur, – Kecamatan Tomoni Timur menggelar rapat koordinasi persiapan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah bersama para kepala desa, imam desa, Ketua PHBI, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Rabu (12/05), di Aula Kantor Camat Tomoni Timur.
Rapat dipimpin langsung oleh Camat Tomoni Timur, Yulius, sebagai langkah memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan pelaksanaan Idul Adha berjalan aman, tertib, lancar, dan khidmat.
Dalam arahannya, Yulius menegaskan pentingnya sinergi seluruh pihak, terutama dalam pengawasan kesehatan hewan qurban guna mengantisipasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah Tomoni Timur.
“Pelaksanaan Idul Adha bukan hanya soal kelancaran ibadah, tetapi juga memastikan hewan qurban sehat, aman, dan layak dikonsumsi masyarakat. Koordinasi semua pihak sangat penting untuk mencegah potensi penyebaran penyakit ternak,” ujarnya.
Rakor tersebut juga membahas kesiapan pelaksanaan Shalat Idul Adha di seluruh desa, mulai dari pendataan lokasi pelaksanaan shalat, pengaturan kebersihan dan keamanan area masjid maupun lapangan, hingga kesiapan fasilitas pendukung.
Selain itu, pemerintah kecamatan bersama unsur terkait juga menyiapkan pengaturan parkir, lalu lintas, dan pengamanan terpadu bersama TNI, Polri, serta Satpol PP agar pelaksanaan hari raya berjalan kondusif.
Pemerintah kecamatan turut mengimbau masyarakat untuk menjaga ketertiban, memperkuat toleransi antarumat beragama, serta menjaga kebersihan lingkungan selama pelaksanaan Idul Adha.
Dalam materi sosialisasi yang disampaikan drh. Gusti Made Widyantara, S.KH, dijelaskan bahwa pelaksanaan qurban modern harus mengintegrasikan tiga pilar utama, yakni syariat Islam, kesehatan masyarakat veteriner atau zoonosis, serta pengelolaan lingkungan berbasis zero waste.
“Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol pengorbanan dan kepedulian sosial. Karena itu, hewan qurban wajib sehat, layak secara syariat, dan aman dikonsumsi masyarakat,” demikian salah satu poin penting dalam pemaparan tersebut.
Materi tersebut menekankan bahwa pemilihan hewan qurban tidak hanya dilihat dari ukuran tubuh, tetapi juga umur minimal dan kondisi fisik hewan. Sapi minimal berusia dua tahun, kambing satu tahun, domba enam bulan atau sudah poel, serta unta lima tahun. Hewan juga harus sehat, tidak cacat, aktif, memiliki nafsu makan baik, mata jernih, dan tidak menunjukkan tanda penyakit.
Selain pemeriksaan fisik, panitia qurban juga diminta memastikan setiap hewan memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari instansi berwenang. Dokumen tersebut menjadi bukti bahwa hewan telah melewati pemeriksaan kesehatan, masa karantina, serta vaksinasi penyakit tertentu seperti PMK dan anthrax.
Dalam pemaparan itu juga diingatkan mengenai kewaspadaan terhadap sejumlah penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, seperti anthrax dan brucellosis. Penyakit anthrax disebut sangat berbahaya karena dapat menular melalui kontak darah dan cairan tubuh hewan.
“Jika ditemukan gejala anthrax seperti keluarnya darah hitam dari lubang tubuh hewan, maka penyembelihan harus dihentikan total,” demikian isi materi tersebut.
Selain anthrax, panitia qurban juga diminta mewaspadai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), cacing hati, hingga cysticercosis. Pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan dinilai penting untuk menjamin kualitas daging sekaligus menjaga kehalalan qurban.
Aspek kesejahteraan hewan turut menjadi perhatian. Hewan qurban diminta diperlakukan secara manusiawi, tidak dipukul atau membuatnya stres sebelum disembelih. Proses penyembelihan harus menggunakan pisau tajam agar meminimalkan rasa sakit pada hewan.
Tak hanya itu, pengelolaan limbah qurban juga menjadi sorotan utama. Darah hewan dilarang dibuang ke sungai atau saluran air karena dapat mencemari lingkungan dan menjadi media berkembangnya bakteri. Panitia dianjurkan membuat lubang resapan minimal sedalam satu meter untuk pembuangan darah dan limbah cair.
Konsep “Green Qurban” atau qurban ramah lingkungan juga diperkenalkan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat distribusi daging. Panitia dianjurkan menggunakan besek bambu, daun pisang, atau wadah pakai ulang milik warga.
Melalui rakor tersebut, Pemerintah Kecamatan Tomoni Timur berharap pelaksanaan Idul Adha tahun ini tidak hanya berjalan lancar dan khidmat, tetapi juga mampu menghadirkan pelaksanaan qurban yang sehat, aman, higienis, serta ramah lingkungan bagi masyarakat.





