Saat Sekolah Turun Tangan, Disdikbud Lutim Sambangi Empat Lokasi Kebakaran dan Bantu Siswa Terdampak

oleh -9 pembaca
oleh

LUWU TIMUR – Musibah kebakaran yang menimpa sejumlah warga Kabupaten Luwu Timur dalam beberapa hari terakhir mendapat perhatian dari jajaran dunia pendidikan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) se-Kabupaten Luwu Timur turun langsung menemui para korban, Kamis (20/8/2026).

Dipimpin Kepala Disdikbud Luwu Timur, Raoda K, rombongan mengunjungi sedikitnya empat lokasi terdampak kebakaran yang tersebar di Malili, Angkona, Wotu hingga Tomoni.

Kunjungan tersebut tidak sekadar untuk melihat kondisi korban. Jajaran Disdikbud dan K3S juga menyerahkan bantuan, terutama kepada siswa yang menjadi penyintas kebakaran.

Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian lingkungan pendidikan terhadap peserta didik yang harus menghadapi musibah di tengah aktivitas belajar mereka.

Turut dalam rombongan, Kabid Dikdas Agus Saman, Ketua K3S Luwu Timur Hardianto, serta Bendahara Rani Rais.

Raoda mengatakan, kehadiran Disdikbud dan K3S di lokasi kebakaran merupakan bagian dari kepedulian sosial terhadap siswa yang terdampak musibah.

“Ini merupakan bentuk kepedulian sosial kami bersama K3S. Kami ingin memastikan siswa yang terdampak musibah tetap mendapatkan perhatian,” ujar Raoda.

Menurutnya, dampak kebakaran tidak hanya menyangkut kerugian material. Bagi anak-anak yang menjadi korban, musibah juga dapat memengaruhi aktivitas belajar dan kondisi mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, dukungan dari lingkungan sekolah dinilai penting agar siswa yang mengalami musibah tetap merasa diperhatikan dan mendapat dukungan untuk melanjutkan pendidikan.

Dalam kegiatan tersebut, rombongan bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Malili menjadi titik pertama, kemudian dilanjutkan ke wilayah Angkona, Wotu, dan Tomoni.

Di setiap lokasi, jajaran Disdikbud dan K3S melihat langsung kondisi keluarga yang terdampak sekaligus menyerahkan bantuan.

Perhatian khusus diberikan kepada siswa yang keluarganya menjadi korban kebakaran. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban keluarga sekaligus memberikan dukungan moral kepada peserta didik.

Bagi Disdikbud dan K3S, kepedulian terhadap pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ketika siswa menghadapi persoalan di luar sekolah, lingkungan pendidikan juga memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir.

Raoda juga mengajak sekolah-sekolah di Luwu Timur untuk membangun gerakan sosial yang dapat membantu siswa maupun warga sekolah ketika menghadapi musibah.

Salah satu yang didorong adalah pemanfaatan kegiatan sedekah Jumat sebagai wadah solidaritas di lingkungan sekolah.

“Dalam kesempatan ini, saya juga mengimbau sekolah-sekolah menginisiasi kegiatan sosial. Misalnya lewat sedekah Jumat yang dananya bisa digunakan ketika ada siswa yang tertimpa musibah,” katanya.

Menurut Raoda, kepedulian semacam itu dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus memperkuat budaya gotong royong di lingkungan sekolah.

Aksi sosial Disdikbud dan K3S tersebut diharapkan tidak hanya membantu meringankan beban korban kebakaran, tetapi juga menjadi pesan bahwa siswa yang tertimpa musibah tidak berjalan sendirian.

Di tengah musibah yang terjadi, dunia pendidikan Luwu Timur memilih hadir bukan hanya melalui proses belajar mengajar, tetapi juga melalui solidaritas dan kepedulian terhadap peserta didik serta keluarganya.