Sungai Ussu Kembali Keruh, Petani Tambak Desa Atue Terpukul: Panen Tertunda, Kematian Udang Meningkat

oleh -34 pembaca
oleh

Kondisi Sungai yang Mengkhawatirkan

Air sungai nampak keruh diduga akibat aktivitas perusahaan tambang PT PUl

Malili, Luwu Timur – Kondisi Sungai Ussu yang kembali keruh dan berubah warna menjadi kecokelatan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya petani tambak di Desa Atue, Kecamatan Malili. Perubahan kualitas air ini dilaporkan memengaruhi produktivitas tambak serta memicu kerugian ekonomi bagi warga.

Air Sungai Ussu yang menjadi sumber utama suplai air tambak di wilayah tersebut kini dinilai tidak stabil, sehingga mengganggu siklus budidaya yang selama ini menjadi andalan masyarakat setempat.

Dampak pada Petani Tambak

Sejumlah petani tambak mengaku mengalami penurunan hasil produksi sejak kondisi air sungai berubah. Salah satu petambak, SN, menyebut masa panen yang sebelumnya berlangsung sekitar empat bulan kini molor hingga tujuh bulan.

“Dulu sekitar 4 bulan sudah panen, sekarang bisa sampai 7 bulan,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan petambak lainnya, As (36), yang mengungkapkan meningkatnya tingkat kematian udang sejak air sungai keruh.

“Udang baru satu bulan biasanya sudah mulai mati,” katanya.

Para petambak menjelaskan bahwa mereka sangat bergantung pada air sungai untuk sirkulasi tambak. Namun, kondisi air yang keruh bahkan sempat berlumpur selama beberapa hari membuat mereka kesulitan melakukan pergantian air secara optimal.

Dilema Petambak di Lapangan

Warga menghadapi situasi sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga kualitas air tambak agar tetap layak bagi pertumbuhan udang. Namun di sisi lain, kondisi pasang air memaksa mereka tetap memasukkan air dari sungai demi menghindari kerusakan tambak.

“Kalau tidak dimasukkan saat pasang besar, empang bisa jebol. Tapi kalau dimasukkan, udang berisiko mati,” ungkap salah satu warga. Jum’at (03/04/26).

Situasi ini memperlihatkan tekanan yang dihadapi petambak dalam menjaga keberlangsungan usaha mereka di tengah kondisi lingkungan yang tidak menentu.

Dugaan Penyebab dan Harapan Warga

Berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat, kondisi air berlumpur tersebut diduga berkaitan dengan insiden pada fasilitas pengelolaan limbah (settling pond) milik PT Prima Utama Lestari (PT PUL). Namun, dugaan ini masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak terkait.

Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah serta tanggung jawab dari pihak perusahaan terhadap dampak yang dirasakan masyarakat.

“Kami berharap ada solusi dan tanggung jawab. Tambak ini sudah ada lebih dulu, ini sumber hidup kami,” ujar salah satu petambak.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Luwu Timur terkait kondisi tersebut.

Kondisi ini menambah kekhawatiran masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan di wilayah lingkar tambang, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan demi menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan kehidupan masyarakat.