IPM Tertinggi di Sulsel, Luwu Timur Buktikan Pembangunan Lewat Data dan Program Nyata

oleh -11 pembaca
oleh
Oplus_131072

LUWU TIMUR – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Luwu Timur pada 2026, berbagai dinamika opini publik mewarnai ruang sosial masyarakat. Di tengah munculnya berbagai isu negatif terkait arah pembangunan daerah, data resmi menunjukkan capaian pembangunan yang terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Luwu Timur pada 2025 mencapai 77,28, meningkat dari 76,44 pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut menempatkan Luwu Timur sebagai kabupaten dengan IPM tertinggi di Sulawesi Selatan dan berada di posisi keempat secara keseluruhan setelah Kota Makassar, Parepare, dan Palopo.

IPM merupakan indikator yang mengukur kualitas hidup masyarakat melalui tiga dimensi utama, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Kenaikan angka IPM ini dinilai tidak terlepas dari berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir.

Di sektor kesehatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur memperluas akses layanan dengan membiayai rujukan pasien ke Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Makassar melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selain itu, pembangunan Laboratorium Kesehatan Daerah di Malili senilai Rp13,42 miliar dan pengoperasian layanan Public Safety Center (PSC) 119 selama 24 jam menjadi bagian dari upaya peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.

Hasilnya, angka usia harapan hidup masyarakat Luwu Timur kini mencapai 74,86 tahun.

Sementara itu, pada sektor pendidikan, pemerintah daerah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), dan Universitas Mega Buana Palopo untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan sekolah berbakat.

Selain itu, pelatihan operator alat berat melalui PT Luwu Timur Skill Center juga disiapkan guna meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal dalam menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang.

Program unggulan “Tiga Kartu Sakti” turut menjadi instrumen pemerintah dalam memperkuat layanan sosial masyarakat. Program tersebut meliputi Kartu Luwu Timur Pintar, Kartu Luwu Timur Sehat, dan Kartu Lansia.

Sepanjang 2025, sebanyak 9.878 mahasiswa menerima bantuan beasiswa, 16.253 siswa memperoleh seragam sekolah gratis, dan layanan kesehatan dimanfaatkan oleh 422.183 pasien. Sementara program Kartu Lansia telah menjangkau 2.808 warga lanjut usia.

Untuk meningkatkan daya saing generasi muda di tengah masuknya investasi asing, pemerintah daerah juga meluncurkan program Mandalish yang menyediakan kursus intensif Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris bagi masyarakat.

Di tingkat desa, Program PANDU JUARA diterapkan sebagai model pembangunan berbasis desa dengan melibatkan 33 desa percontohan yang tersebar di 11 kecamatan.

Kemajuan sektor pendidikan juga tercermin dari meningkatnya harapan lama sekolah menjadi 13,38 tahun dan rata-rata lama sekolah penduduk dewasa yang mencapai 9,04 tahun.

Pada sektor ekonomi, jumlah penduduk miskin di Luwu Timur tercatat menurun dari 44.240 jiwa pada 2024 menjadi 41.760 jiwa pada 2025. Pemerintah daerah menargetkan angka kemiskinan dapat ditekan hingga sekitar 5 persen pada periode 2025–2030.

Data pembangunan tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan arah pembangunan daerah berjalan secara terukur melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Di tengah beragam opini yang berkembang, capaian statistik pembangunan menjadi tolok ukur yang menggambarkan hasil kerja pembangunan secara nyata di Kabupaten Luwu Timur.