LUWU TIMUR – Proyek pembangunan jalur dua dari Bundaran Atue menuju Desa Ussu, pintu masuk Malili, ibu kota Kabupaten Luwu Timur, berjalan lambat. Proyek senilai Rp56,7 miliar yang bersumber dari APBD Luwu Timur Tahun Anggaran 2026 itu, hingga Kamis (1/10/2026), belum mencapai lima persen bobot pekerjaan, sementara masa kerja tersisa 80 hari.
Berdasarkan pantauan media ini bersama jurnalis telusurnews.com di lokasi pada Kamis (1/10/2026), jumlah pekerja yang memasang struktur drainase terlihat sangat sedikit. Padahal, bobot pekerjaan drainase dan dinding talud di kedua sisi jalan tergolong besar.
Lambatnya progres tersebut diduga disebabkan kurangnya tenaga kerja pemasang talud dan drainase. Di sisi lain, kontraktor pelaksana disebut telah mencairkan termin senilai lebih dari Rp11 miliar.
Project Manager proyek jalur dua Ussu, Ocha, saat ditemui di lokasi mengakui pihaknya kekurangan pekerja untuk pemasangan talud dan drainase. Ia berjanji segera menambah jumlah tukang guna mempercepat pekerjaan.
“Kami akan menyelesaikan tanggung jawab sesuai batas waktu yang tertuang dalam kontrak,” ujar Ocha.
Kondisi ini tidak sejalan dengan perhitungan teknis penyedia anggaran yang menargetkan percepatan pembangunan jalur dua, baik saat memasuki maupun keluar dari Malili.
Proyek ini dibangun Pemerintah Daerah Luwu Timur untuk memperlancar konektivitas ekonomi dan transportasi masyarakat di pintu masuk dan keluar ibu kota kabupaten.





