MALILI — Tidak banyak band yang mampu mengubah lagu-lagu tentang kehilangan, penyesalan, dan patah hati menjadi perayaan massal. Namun itulah yang dilakukan Repvblik saat tampil di Lapangan Pendidikan, Puncak Indah, Malili, di HUT 23 Lutim juara, Jumat malam (12/6/2026).
Sejak naik panggung, Ruri dan kawan-kawan langsung mengajak ribuan penonton menyusuri katalog lagu yang membesarkan nama mereka selama hampir dua dekade terakhir. Deretan lagu seperti Tiada Guna Lagi, Sakit Aku Sakit, hingga Aku Tetap Cinta dibawakan tanpa banyak jeda.
Menariknya, lagu-lagu yang selama ini identik dengan nuansa sendu justru hadir dalam kemasan yang lebih meriah. Aransemen dibuat lebih dinamis dengan sentuhan saksofon yang cukup dominan sepanjang pertunjukan.
Sebelum tampil di atas panggung, Ruri lebih dulu menyapa sejumlah penggemar yang menunggu di Wisma Golden Haus Malili. Ia melayani permintaan foto dan berbincang singkat dengan beberapa penggemar yang datang dari berbagai daerah di Luwu Timur.

Salah satunya adalah Mulfiani, seorang ibu rumah tangga yang mengaku tak pernah membayangkan bisa bertemu langsung dengan vokalis band yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi dan media sosial.
“Ini foto dan kenangan sepanjang masa. Saya tidak pernah membayangkan bisa bertemu langsung, apalagi foto bersama,” ujar Mulfiani dengan wajah sumringah usai berfoto bersama Ruri.
Kedekatan dengan penggemar itu rupanya berlanjut hingga konser dimulai. Lagu-lagu patah hati yang biasanya dinikmati dalam kesendirian berubah menjadi nyanyian bersama. Penonton mengangkat tangan, bertepuk mengikuti irama, dan menyanyikan setiap reff yang telah mereka hafal bertahun-tahun.
Di beberapa bagian, perpaduan antara lirik yang melankolis dan tempo yang riang memang terasa kontras. Namun malam itu Repvblik tidak sedang merayakan kesedihan. Mereka justru mengajak penonton berdamai dengan kenangan yang pernah hadir melalui lagu-lagu tersebut.
Suasana nostalgia semakin terasa ketika band asal Bogor itu membawakan lagu lawas Ini Rindu yang dipopulerkan Farid Hardja. Begitu penggalan lirik “Oh burung nyanyikanlah, katakan padanya aku rindu” terdengar dari atas panggung, penonton langsung ikut bernyanyi.
Setelah itu, konser memasuki fase yang lebih santai. Para personel mendapat ruang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing melalui sejumlah sesi instrumental. Permainan bass, gitar, keyboard, hingga saksofon mendapat sorotan tersendiri.
Keyboardis Tiar yang berasal dari Ambon bahkan sempat menghadirkan nuansa musik Indonesia Timur. Sementara solo drum menjadi salah satu penampilan instrumental terpanjang malam itu dan mendapat respons meriah dari penonton.
Ketika pola ritme khas Sulawesi Selatan dimainkan, tepuk tangan dan sorakan langsung terdengar dari berbagai sudut lapangan. Para personel kemudian berjalan hingga ke lidah panggung sambil memainkan irama Ta’ Bola-Bale, lagu yang belakangan populer di Luwu Timur.
Meski konser berlangsung meriah, wajah asli Repvblik justru muncul ketika tempo mulai melambat.
Denting piano perlahan mengambil alih suasana. Saksofon yang sejak awal menjadi pemanis aransemen kini terdengar lebih dominan mengisi ruang di antara vokal dan instrumen lainnya.
Saat Cinta Sempurna dibawakan, suasana yang sebelumnya riuh perlahan berubah menjadi lebih tenang. Puncaknya terjadi ketika Ruri meminta penonton menyalakan lampu telepon genggam mereka.
Satu per satu cahaya muncul hingga membentuk lautan lampu kecil yang memenuhi area konser.
Di bawah gemerlap cahaya tersebut, intro piano membuka jalan bagi Hanya Ingin Kau Tahu, lagu yang mungkin paling melekat dalam perjalanan karier Repvblik.
Tak menunggu lama, ribuan penonton langsung ikut bernyanyi sejak bait pertama. Jarak antara panggung dan lapangan seolah menghilang. Yang tersisa hanyalah satu suara besar yang menyanyikan lagu yang sama.
Suasana kembali berubah ketika Ruri menawarkan pilihan kepada penonton menjelang lagu Aku Takut.
“Mau versi original atau dangdut?” teriak Ruri dari atas panggung.
Sorakan penonton langsung menyambut. Lagu yang semula dibuka dengan permainan piano yang pelan dan emosional itu kemudian meledak dalam irama dangdut koplo yang membuat lapangan kembali bergoyang.
Menjelang akhir penampilan, Repvblik membawakan Selimut Tetangga. Pada lagu tersebut, Ruri mengundang Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, untuk ikut bernyanyi bersama di atas panggung.
Malam itu hujan dan angin yang sejak sore menyelimuti Malili memang tidak sepenuhnya pergi. Namun cuaca tak menghalangi antusiasme penonton yang bertahan hingga lagu terakhir.
Di tengah udara malam yang lembap, Repvblik berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah: mengubah lagu-lagu patah hati menjadi pesta, dan menjadikan kenangan tentang kehilangan sebagai sesuatu yang dirayakan bersama.





